RSS

Sabtu, 28 Januari 2017

Dua Hal Di Turki yang Tak Dapat Ditemukan Di Indonesia (FLP Challenge)



Ilma, Ilma... disana ada siomay ga?
“Ma, ada telolet ga?”
“Emang disana ga ada bumbu-bumbu ya?”
“Di Turki yang terkenal itu ada tari sufi ya?”
tari sufi ile ilgili görsel sonucu
Tari Sufi
Segudang pertanyaan yang terlontar dari setiap insan yang mengenalku. Rasa ingin tahu yang begitu besar akan dunia luar, dunia Turki dan dunia studyku. ‘Turki’, ya memang indah negeri ini, tapi tak ada tempat yang seindah negeriku. Semua hal yang mungkin sepele saat aku di nusantara bagai menemukan oasis ditengah gurun, bagai menemukan kehidupan dalam syurga saat kutemukannya di negri ini. Terlepas dari itu semua, hal unik di Turki yang mungkin tak akan pernah kutemukan di tanah air hanya dapat kualami selama hidupku di negeri ini.

Sejak kedatanganku ke tempat ini waktuku habis untuk berkutat dengan buku pelajaran, masuk ke kelas persiapan bahasa Turki dan mengulang hal yang sama disetiap harinya. Waktu demi waktu berlalu hingga akhirnya angin dingin mulai menerpa wajahku, tubuhku... ‘oh dingin sekali’ kupikir. Saat itu aku harus berpisah dengan musim gugur pertamaku yang indah dan menyapa dinginnya udara dengan suhu yang semakin turun, ya ini musim dingin pertamaku. Tubuhku tak bisa berkompromi dengan udara ini hingga tanganku memerah bahkan ungu dan kaku. Konya memang sangat dingin dan aku mencoba bertahan sekuatku hingga libur tiba. Dinginnnya cuaca ini membuatku memutuskan untuk pergi ke Istanbul setelah harapanku punah untuk melihat Istanbul saat pertama kali aku datang.

*Tin tin tiiinn*

Ohh ramainya kota ini, macet dimana-mana seakan aku datang ke Jakarta. Jembatan-jembatan, gedung pencakar langit, angkutan umum memadati kota ini. Kuputuskan untuk pergi ke Ayasofya pada hari pertama. Mataku terpana akan indahnya pemandangan yang Istanbul suguhkan padaku. satu hal yang membuatku lebih terpana dari itu bukan karena pemandangan cantik Istanbul, bukan karena keramahan orang Istanbul, melainkan dua insan yang berjalan bergandengan di depanku. ‘Bahagia’ perasaan yang tersorot jelas diantara mereka. Aku yakin mereka telah melalui segudang memori perjuangan, susah, senang bersama. Kini mereka menua bersama namun jiwa muda mereka masih jelas tersirat diwajah keduanya. ‘Sungguh indah’ ku pikir. Selama hidupku di tanah air aku tak pernah menemukan sepasang pun kakek dan nenek dengan sengaja berjalan-jalan di taman kota atau tempat rekreasi lainnya untuk menghabiskan waktu bersama.
       iki yaslilar beraber geziyor ile ilgili görsel sonucuiki yaslilar beraber geziyor ile ilgili görsel sonucu
Puas kuhabiskan waktu di Ayasofya aku berjalan-jalan santai di sekitaran perisir laut Istanbul. Pandanganku penuh dengan orang-orang tua itu, seakan tak ada tempat tanpa mereka, seakan mereka berpencar diseluruh penjuru. Ketika itu aku tersadar, pemandangan ini bukan sekedar kebetulan aku lihat di Ayasofya tadi. Hingga aku bertanya pada diriku sendiri ‘Apa yang membuat mereka seperti ini? Sedekat ini? Seromantis ini?’ ‘Kultur? Ya mungkin..’

*Krucuk krucuk*

Suara tak asing ku dengar ditelingaku.

“Lapar ya..” tanya temanku.
“Sepertinya..” aku hanya tersenyum menahan malu.
“Oke mending kita makan dulu” jawabnya santai.

Langkah demi langkah membawa kami jauh dari tempat kami berdiri.

“Mau makan apa?” tanyanya.
Döner, ya apa lagi.. maklum anak kuliahan” jawabku.

Ia hanya menjawabku dengan senyuman, kamipun melanjutkan perjalanan.

“Abi, iki tane döner ve iki tane çay olsun*1
“Tamam biraz bekleyiniz”*2
döner ile ilgili görsel sonucu
Döner
Pesanan yang kami pesan datang dihadapan kami, menggugah selera makan kami, aku tak sabar melahapnya hingga habis. Ini enak, atau aku lapar aku tak begitu peduli saat itu yang terpenting saat itu hanyalah ‘makan’. Teh yang aku pesan sudah mulai mendingin, aku memang makan sangat lama mungkin namun tetap kuminum semua seakan baru menemukan air saat itu.

“Sudah selesai? Mau pergi sekarang?” tanya temanku.
“Sebentar aku lelah..”

Penjual döner tersebut menghampiri kami. Kukira dia ingin bertanya jika kami ingin pesan sesuatu kembali. Namun yang ia lakukan diluar dugaanku dan membuatku terkejut. Ia dengan sigap memboyong semua peralatan yang berada di meja kami saat kami masih duduk bersantai, bahkan ia mengambil gelas teh milik temanku yang masih sisa setengahnya. Aku melihatnya dengan roman mukaku yang bingung setengah tersinggung.
müşterinden tabak alırken ile ilgili görsel sonucu
Ilustrasi
“Ayo kita pergi” kataku.
“Loh katanya cape..?” tanyanya bingung.
“Ya kita sudah diusir lebih baik pergi”
“Siapa yang ngusir?”
“Lah maksudnya apa orang makan belum selesai main angkut angkut aja..” jawabku sebal.
“hahahaha” ia tertawa geli melihatku.

Aku bingung melihat kelakuan temanku. Apa yang lucu dari semua ini? Apa yang mesti dia tertawakan sampai begitu terbahak-bahaknya?

“Aku lupa kamu baru ya.. di Turki memang begitu Ilma, kamu jangan tersinggung, mereka memang mengambil semua piring kotor meskipun saat makananmu masih tersisa sedikit, mungkin mereka kira kita tak mau makan lagi..” dengan santainya ia memberi penjelasan.

Aku hanya terdiam, rasanya tak ingin meluapkan satu katapun dari mulutku, entah apa yang harus kulakukan, entah apa yang harus kukatakan. Diam, diam, diam... ku rasa hanya ini yang bisa kulakukan.

“Ayo kita lanjut jalan-jalannya..”

Ia menarikku jauh dari tempat itu. Pergi jauh dari tempat aku mendapat pelajaran baru...

Whats the meaning? (Apa artinya?)
*1 Pak, dua döner (makanan Turki seperti hotdog) dan dua teh.
*2 Iya, mohon tunggu.

Foto diambil dari :
1. http://ramadan.liputan6.com/
2. http://www.boluolay.com/
3. http://www.goktepe.net/
4. http://www.milliyet.com.tr/

Tulisan ini dibuat untuk FLP Challenge (www.flpturki.com.) see the site for more :)


2 komentar:

Dede Riyaldi mengatakan...

Kapan ya kesana, hehehe. Nice blog Ma... Jadi kepengen banget ke Turkey.
Salam Ngaheab dari Institut Pertanian Bogor hehehe
Jangan segan berkunjung kembali ke dederiyaldi.blogspot.com nggak ada perjalanan indah kr luar kok hehehe

Ilma Alya İlyaa mengatakan...

insyaAllah ketemu disini yaa :) oke salam anak negeri dari Selçuk Üniversitesi hehehe... siip nanti tak tengok-tengok blognya dede yaa :)